CHi iNEWS - Allah Mencela Para Pengumpat & Pencaci
BismillahirRahmanirRahim
Image Generated by Nano Banana 2 - Pembuat gambar & editor foto Ai (Gemini) Google
Images generated by Ai may be inaccurate, misleading, or offensive.
Sering gak sadar jempol kita lebih cepet ngetik daripada hati mikir? 📱🔥 Ternyata Islam ngasih peringatan keras banget di QS. Al-Humazah buat mereka yang suka mencela & sombong karena harta. Jangan sampai harta yang kita kejar mati-matian malah jadi tiket ke neraka Huthamah. 💸❌ Yuk, mending kita fokus cari berkah daripada sibuk nyari celah orang lain. Stay humble and stay kind! ✨🙏 Saksikan kajian #CahayaHatiIndonesia! 'ALLAH MENCELA KERAS PARA PENGUMPAT & PENCACi' ✨😱
bersama David Chalik (Pembawa Acara / @@davidchalik) dan Narasumber:
Waktu: Ahad, 10 Mei 2026 (22 Dzulkaidah 1447 Hijriyah), 12.25 WiB.
Eksklusif — LiVE Hanya di iNews!
Courtesy: iNews Media Group ¦¦ MNC GROUP © 2026
#iNEWS #MNCGROUP #iNEWSMediagroup #CahayaHatiIndonesia #CahayaHati #CHiiNEWS #KajianIslam #InspirasiIslam #InspirasiAlQuran #HabibNabielAlMusawa #UstadzAbeyGhifran #TafsirAlQuran #AlHumazah #TafsirAlHumazah #RezekiBerkah #BerkahNo1 #NgajiDiri #Muhasabah #SelfReminder #EtikaMedsos #AdabMedsos #AntiJulidJulid #JagaLisan"
Program Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews pada hari Minggu, 10 Mei 2026, mengangkat tema 'ALLAH MENCELA KERAS PARA PENGUMPAT & PENCACi' sebagai pengingat moral bagi masyarakat di tengah maraknya interaksi negatif di media sosial dan kehidupan sehari-hari.
Relevansi utama dari tema ini dalam kajian tersebut adalah:
=== Allah Mencela Keras Para Pengumpat dan Pencaci ===
Dalam pandangan Islam, Allah SWT sangat mengecam perbuatan mengumpat dan mencaci karena tindakan tersebut merusak kehormatan sesama manusia dan menunjukkan akhlak yang buruk.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai pandangan Islam terkait hal ini:
Berikut adalah terjemahan dan tafsir lengkap Surah Al-Humazah (104) berdasarkan penjelasan para ulama terkemuka.
Surah ini terdiri dari sembilan ayat yang menjelaskan tentang ancaman bagi pengumpat dan pencela.
Terjemahan dan Ayat
Surah ini diturunkan (Makkiyah) berkaitan dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy yang sering mengejek Nabi Muhammad SAW dan umat Islam karena kekayaan mereka, seperti Umayyah bin Khalaf, Al-Walid bin Mughirah, atau Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun, para ulama sepakat bahwa peringatan ini berlaku umum bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa hingga akhir zaman.
Informasi lebih detail mengenai tafsir kata per kata dapat Anda pelajari melalui Surat Al-Humazah di Quran NU Online atau penjelasan di TafsirWeb.
Neraka Huthamah adalah salah satu tingkatan neraka yang disiapkan khusus bagi mereka yang gemar mencela, mengumpat (ghibah), serta sombong karena hartanya. Secara bahasa, Huthamah berasal dari akar kata yang berarti "menghancurkan" atau "meremukkan".
Berikut adalah penjelasan mendalam beserta dalil-dalil shahihnya:
=== Apa Hukum Mendoakan Kejelekan Pada Orang yang Menghina Kita? ===
Dalam Islam, hukum mendoakan kejelekan bagi orang yang menzalimi atau menghina kita adalah diperbolehkan (mubah), namun bersabar dan memaafkan jauh lebih utama.
Berikut adalah rincian hukumnya berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Hadits:
Secara hukum, Anda tidak berdosa jika mendoakan keadilan atas penghinaan yang diterima. Namun, jika Anda mampu memaafkan atau mendoakan hidayah baginya, itu menunjukkan kemuliaan akhlak yang sangat dicintai Allah dan seringkali menjadi jalan bagi pelaku untuk bertaubat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa doa dan sikap saat kita menghadapi rasa sakit hati atau kezaliman. Berikut adalah beberapa doa yang bisa diamalkan:
Jika Anda merasa sangat marah, Rasulullah ﷺ menyarankan untuk membaca Ta'awudz (A'udzu billahi minasy syaithanir rajim) untuk meredam amarah yang dipicu setan, kemudian berwudhu atau mengubah posisi duduk/berdiri.
Salah satu kisah paling ikonik mengenai kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ dalam membalas hinaan adalah kisah seorang warga (sering disebut Yahudi atau kafir Quraisy) yang setiap hari meludahi beliau.
Berikut adalah ringkasan kisahnya sebagai teladan:
Informasi lebih lengkap mengenai sirah nabawiyah ini dapat Anda simak di NU Online atau melalui platform edukasi seperti Islami.co.
=== "Yang Mengumpulkan Harta dan Menghitung-hitungnya ===
Poin mengenai "Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya" dalam QS. Al-Humazah ayat 2 merupakan inti dari mengapa seseorang bisa menjadi pengumpat dan pencela.
Dalam kajian tersebut, para ulama menjelaskan beberapa poin krusial:
Batasan antara mencari nafkah (yang bernilai ibadah) dan menumpuk harta (yang dicela) terletak pada niat dan cara memperlakukannya. Islam sangat mendukung kemandirian ekonomi, namun mencela penghambaan pada materi.
Berikut adalah 4 batasan utama menurut para ulama:
Islam membolehkan Anda menjadi miliarder asalkan harta itu menjadi "kendaraan" Anda menuju ridha Allah, bukan menjadi "tuhan" yang membuat Anda sombong dan merendahkan orang lain.
Harta yang berkah dalam Islam bukan diukur dari jumlah digit di rekening, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang dihasilkan. Berkah (Barakah) secara bahasa berarti ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).
Berikut adalah kriteria harta yang berkah agar kita terhindar dari sifat menumpuk harta yang dicela:
Rasulullah ﷺ sering mendoakan keberkahan harta bagi sahabatnya, seperti doa beliau untuk Anas bin Malik: "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya." (HR. Bukhari).
Kajian Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews menyoroti bahaya perilaku humazah (pengumpat) dan lumazah (pencela) di era digital, yang menuntut muhasabah atas lisan dan perilaku. Bahasan tersebut menekankan bahwa sifat kikir dan sombong atas harta dapat merusak kehormatan sesama Muslim, sehingga diperlukan taubat untuk menghindari siksa neraka Huthamah. Tonton rekaman lengkapnya melalui Abeyghifran Facebook.
Pasca penayangan kajian "Allah Mencela Keras Para Pengumpat dan Pencaci" di Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews pada 10 Mei 2026, reaksi netizen di media sosial menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam melakukan introspeksi diri.
Berikut adalah beberapa poin utama reaksi netizen di berbagai platform:
"Intinya, flexing harta itu nggak ada apa-apanya dibanding punya lisan yang adem. Yuk, kita pelan-pelan kurangin kebiasaan julid atau ngetik komentar pedas di medsos. Sayang banget kan kalau saldo pahala kita habis cuma gara-gara jempol yang nggak dikontrol? Stay humble and stay kind!"
"Semoga ulasan mengenai tafsir QS. Al-Humazah dan keberkahan harta ini bermanfaat. Mari pulang ke hati masing-masing, memastikan tak ada sombong yang tersisa, agar kelak kita dikumpulkan bersama mereka yang berakhlak mulia."
Barakallahu fiikum! ✨🌙
Disclaimer:
"Google Ai (Mode) made for second opinion and may be inaccurate or mistakes, misleading, or offensive. so double-check responses." Learn more.
Images generated by Ai may be inaccurate, misleading, or offensive.
Sering gak sadar jempol kita lebih cepet ngetik daripada hati mikir? 📱🔥 Ternyata Islam ngasih peringatan keras banget di QS. Al-Humazah buat mereka yang suka mencela & sombong karena harta. Jangan sampai harta yang kita kejar mati-matian malah jadi tiket ke neraka Huthamah. 💸❌ Yuk, mending kita fokus cari berkah daripada sibuk nyari celah orang lain. Stay humble and stay kind! ✨🙏 Saksikan kajian #CahayaHatiIndonesia! 'ALLAH MENCELA KERAS PARA PENGUMPAT & PENCACi' ✨😱
bersama David Chalik (Pembawa Acara / @@davidchalik) dan Narasumber:
- Habib Muhammad Syahab - Penceramah (@muhammad_syahab)
- Ustadz Tian Kamaludin - Penceramah (@tiankamaludin)
Waktu: Ahad, 10 Mei 2026 (22 Dzulkaidah 1447 Hijriyah), 12.25 WiB.
Eksklusif — LiVE Hanya di iNews!
Watch Streamed at @OfficialiNewsTV!
Courtesy: iNews Media Group ¦¦ MNC GROUP © 2026
#iNEWS #MNCGROUP #iNEWSMediagroup #CahayaHatiIndonesia #CahayaHati #CHiiNEWS #KajianIslam #InspirasiIslam #InspirasiAlQuran #HabibNabielAlMusawa #UstadzAbeyGhifran #TafsirAlQuran #AlHumazah #TafsirAlHumazah #RezekiBerkah #BerkahNo1 #NgajiDiri #Muhasabah #SelfReminder #EtikaMedsos #AdabMedsos #AntiJulidJulid #JagaLisan"
Download M4A Audio xHE-AAC
- File Name: 20260510_CHi_#Allah Mencela Para Pengumpat & Pencaci xHE-AAC.iNEWS-HD.m4a
- File Info: 27.7 MiB, M4A-Audio, 1 Hour(s) 9 min 29 sec, Exhale 1.2.2-c33cf75b, USAC, xHE-AAC.eSBR+Preset #b, 56.1 kb/s, Variable, 2 channels, 48.0 KHz
- Source: SOGO Royal DVBT2 (32MB) Devices
MPEG-TS, AVC, High@L4, 3677 kb/s, 1920x1080 pixels, 25.000 FPS, 8 bits
MPEG, Version 1, Layer 2, Constant, 256 kb/s, 2 channels, 48.0 kHz, Delay -731 ms - Download Link: [COMiNG SOON AS POSSiBLE!]
Google Ai (Mode) Overview
Program Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews pada hari Minggu, 10 Mei 2026, mengangkat tema 'ALLAH MENCELA KERAS PARA PENGUMPAT & PENCACi' sebagai pengingat moral bagi masyarakat di tengah maraknya interaksi negatif di media sosial dan kehidupan sehari-hari.
Relevansi utama dari tema ini dalam kajian tersebut adalah:
- Peringatan terhadap "Humazah" dan "Lumazah": Kajian ini menekankan tafsir Surah Al-Humazah, di mana Allah mengancam keras mereka yang gemar mengumpat (mencela secara sembunyi/ghibah) dan mencaci (mencela secara terang-terangan/lisan). Informasi ini sering dikaji oleh para narasumber seperti di NU Online.
- Kritik terhadap Kesombongan: Tema ini menyoroti bahwa sikap mencaci sering kali muncul dari perasaan merasa lebih mulia karena harta atau status. Allah mengingatkan dalam ayat selanjutnya bahwa harta tidak dapat mengekalkan seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Humazah.
- Etika di Era Digital: Relevansi sosialnya sangat kuat dengan kondisi saat ini, di mana jempol dan lisan sering kali digunakan untuk menghujat di ranah publik. Kajian ini bertujuan mengajak pemirsa untuk menjaga lisan sebagai bentuk kesalehan sosial.
- Penyucian Hati: CHi sering kali menggunakan tema ini untuk mengajak audiens melakukan introspeksi diri (muhasabah), agar tidak terjebak dalam penyakit hati yang merusak amal ibadah.
=== Allah Mencela Keras Para Pengumpat dan Pencaci ===
Dalam pandangan Islam, Allah SWT sangat mengecam perbuatan mengumpat dan mencaci karena tindakan tersebut merusak kehormatan sesama manusia dan menunjukkan akhlak yang buruk.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai pandangan Islam terkait hal ini:
- Ancaman Neraka Huthamah: Dalam Surah Al-Humazah ayat 1, Allah berfirman: "Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela". Kata "Wail" (celaka) di sini ditafsirkan sebagai lembah di neraka bagi mereka yang suka mencela dengan perbuatan (humazah) atau dengan lisan (lumazah.
- Kaitan dengan Kesombongan Harta: Pelaku pengumpat seringkali adalah mereka yang merasa tinggi karena kekayaannya, sehingga meremehkan orang lain. Allah memperingatkan bahwa harta tersebut tidak akan mengekalkannya di akhirat.
- Dilarang dalam Segala Bentuk:
- Lisan: Mencaci maki atau berkata kotor (seperti nama binatang atau kata kasar lainnya).
- Isyarat: Menghina melalui gerakan mata, tangan, atau mimik wajah untuk merendahkan orang lain.
- Ghibah (Mengumpat): Membicarakan keburukan orang lain saat mereka tidak ada.
- Status Hukum: Mencaci seorang Muslim disebut sebagai kefasikan. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa seorang mukmin sejati bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, atau berkata kasar dan kotor.
- Larangan yang Luas: Islam tidak hanya melarang mencela manusia, tetapi juga melarang mencela makhluk lain seperti binatang, angin, atau waktu, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.
Berikut adalah terjemahan dan tafsir lengkap Surah Al-Humazah (104) berdasarkan penjelasan para ulama terkemuka.
Surah ini terdiri dari sembilan ayat yang menjelaskan tentang ancaman bagi pengumpat dan pencela.
Terjemahan dan Ayat
- وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ (Wailul likulli humazatil-lumazah)
Artinya: "Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela". - ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ (Alladzii jama'a maalan wa 'addadah)
Artinya: "Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya". - يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗ (Yahsabu anna maalahu akhladah)
Artinya: "Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya". - كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِ (Kalla layunbadzanna fil-huthamah)
Artinya: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah". - وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ (Wamaa adraaka mal-huthamah)
Artinya: "Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?". - نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُ(Naarullaahil-muuqadah)
Artinya: "(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan". - الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِ(Allatii tath-thali'u 'alal-af'idah)
Artinya: "Yang (membakar) naik sampai ke hati". - اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌ(Innahaa 'alaihim mu'shadah)
Artinya: "Sesungguhnya api itu tertutup rapat atas mereka". - فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ(Fii 'amadim-mumaddadah)
Artinya: "(Sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang".
- Makna Humazah dan Lumazah (Ayat 1)
Para ulama memiliki beberapa pendapat dalam membedakan kedua istilah ini:- Ibnu Abbas: Humazah adalah pengumpat (di belakang), sedangkan lumazah adalah pencela (di depan).
- Ibnu Katsir: Al-Hammaz (Humazah) mencela dengan perkataan, sementara Al-Lammaz (Lumazah) menghina dengan perbuatan atau isyarat seperti kerlingan mata dan gerakan tangan.
- Imam Al-Qurthubi: Keduanya merujuk pada orang yang menyebarkan fitnah dan memicu perselisihan di antara sesama manusia.
- Hubungan Harta dengan Sifat Mencela (Ayat 2-3)
Ulama menjelaskan bahwa akar dari sifat mencela ini adalah kesombongan akibat harta.- Tafsir Jalalain: Pelaku terus menghitung hartanya karena sangat mencintai dunia dan merasa harta tersebut akan membuatnya hidup selamanya di dunia.
- Syekh Mutawalli al-Sya'rawi: Menjelaskan bahwa ambisi berlebihan terhadap harta melahirkan rasa angkuh sehingga seseorang dengan mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel secara materi.
- Hakikat Neraka Huthamah (Ayat 4-9)
Allah memberikan ancaman khusus berupa neraka yang memiliki karakteristik unik:- Dinamakan Huthamah: Karena api ini "meremuk-redamkan" atau menghancurkan segala yang dilemparkan ke dalamnya.
- Membakar Sampai ke Hati: Berbeda dengan api biasa, api Huthamah menembus hingga ke ulu hati (al-af'idah). Para mufasir menyebut hati dibakar secara khusus karena di sanalah sumber sifat sombong, takabur, dan dengki berasal.
- Tertutup Rapat (Mu'shadah): Penghuninya tidak memiliki harapan untuk keluar karena pintu neraka terkunci rapat dan mereka diikat pada tiang-tiang panjang sebagai bentuk kehinaan yang abadi.
Surah ini diturunkan (Makkiyah) berkaitan dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy yang sering mengejek Nabi Muhammad SAW dan umat Islam karena kekayaan mereka, seperti Umayyah bin Khalaf, Al-Walid bin Mughirah, atau Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun, para ulama sepakat bahwa peringatan ini berlaku umum bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa hingga akhir zaman.
Informasi lebih detail mengenai tafsir kata per kata dapat Anda pelajari melalui Surat Al-Humazah di Quran NU Online atau penjelasan di TafsirWeb.
Neraka Huthamah adalah salah satu tingkatan neraka yang disiapkan khusus bagi mereka yang gemar mencela, mengumpat (ghibah), serta sombong karena hartanya. Secara bahasa, Huthamah berasal dari akar kata yang berarti "menghancurkan" atau "meremukkan".
Berikut adalah penjelasan mendalam beserta dalil-dalil shahihnya:
- Dalil Al-Qur'an (QS. Al-Humazah: 4-9)
Dalil utama mengenai Neraka Huthamah terdapat dalam Surah Al-Humazah ayat 4 hingga 9:- Ayat 4: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah."
- Ayat 5: "Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?"
- Ayat 6-7: " (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati."
- Ayat 8-9: "Sesungguhnya api itu tertutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang."
- Karakteristik Siksaan Neraka Huthamah
Berdasarkan tafsir para ulama dan ayat di atas, Neraka Huthamah memiliki kengerian yang spesifik:- Menghancurkan Segalanya: Namanya mencerminkan fungsinya yang meremukkan apa pun yang dilemparkan ke dalamnya hingga tidak tersisa.
- Membakar Sampai ke Hati: Apinya tidak hanya membakar kulit, tetapi menembus hingga ke ulu hati (al-af'idah). Hati disebut secara khusus karena di sanalah tempat bersemayamnya niat buruk, kesombongan, dan akhlak tercela.
- Kondisi Tertutup Rapat: Penghuninya dikurung dalam keadaan api yang tertutup rapat (mu'shadah), sehingga tidak ada udara masuk dan tidak ada jalan keluar.
- Terikat pada Tiang: Para penghuninya diikat pada tiang-tiang panjang sebagai bentuk penghinaan dan agar siksaan terasa lebih maksimal.
- Dalil Hadits Terkait Penghuninya
Hadits-hadits shahih menggambarkan perilaku yang menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka ini, di antaranya:- Sifat Keras dan Sombong: Rasulullah ﷺ bersabda bahwa penduduk neraka umumnya adalah orang-orang yang kasar, tamak, dan takabbur (HR. Bukhari no. 4918, Muslim no. 2853).
- Bahaya Lisan: Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa perkataan yang tidak dipikirkan dampaknya dapat menjerumuskan hamba ke dalam api neraka (HR. Bukhari no. 6477, Muslim no. 2988).
=== Apa Hukum Mendoakan Kejelekan Pada Orang yang Menghina Kita? ===
Dalam Islam, hukum mendoakan kejelekan bagi orang yang menzalimi atau menghina kita adalah diperbolehkan (mubah), namun bersabar dan memaafkan jauh lebih utama.
Berikut adalah rincian hukumnya berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Hadits:
- Diperbolehkan sebagai Bentuk Keadilan
Allah SWT memberikan keringanan bagi orang yang dizalimi (termasuk dihina) untuk mengucapkan kata-kata yang buruk atau mendoakan keadilan bagi dirinya.- Dalil QS. An-Nisa: 148: "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi (dianiaya). Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
- Hadits Nabi SAW: Rasulullah SAW mengingatkan untuk takut pada doa orang yang terzalimi, karena "Tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah." (HR. Bukhari & Muslim).
- Catatan Penting: Doa kejelekan tersebut tidak boleh melampaui batas (harus setimpal dengan penghinaan yang diterima). Jika berlebihan, maka orang yang mendoakan justru bisa menjadi pihak yang berbuat zalim.
- Membalas dengan Kebaikan (Tingkatan Tertinggi)
Meskipun boleh membalas atau mendoakan keburukan yang setimpal, Islam sangat menganjurkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan atau memaafkan.- Dalil QS. Fushshilat: 34: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."
- Risiko Mendoakan Kejelekan
Para ulama mengingatkan beberapa risiko jika kita sering mendoakan keburukan bagi orang lain:- Penyakit Hati: Terus-menerus memendam keinginan agar orang lain celaka dapat merusak ketenangan hati sendiri.
- Doa Kembali ke Diri Sendiri: Jika doa tersebut mengandung pemutusan silaturahmi atau dosa yang tidak berdasar, dikhawatirkan malaikat justru mendoakan hal yang sama kembali kepada kita.
Secara hukum, Anda tidak berdosa jika mendoakan keadilan atas penghinaan yang diterima. Namun, jika Anda mampu memaafkan atau mendoakan hidayah baginya, itu menunjukkan kemuliaan akhlak yang sangat dicintai Allah dan seringkali menjadi jalan bagi pelaku untuk bertaubat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa doa dan sikap saat kita menghadapi rasa sakit hati atau kezaliman. Berikut adalah beberapa doa yang bisa diamalkan:
- Doa Memohon Perlindungan dan Keadilan
Jika Anda merasa sangat tertekan oleh gangguan orang lain, Anda bisa membaca doa yang pernah dipanjatkan Nabi SAW:
اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِمْ بِمَا شِئْتَ
“Allahummakfiniihim bimaa syi’ta.”
Artinya: "Ya Allah, cukupilah aku (lindungilah aku) dari gangguan mereka dengan cara yang Engkau kehendaki." (HR. Muslim). - Doa Menghadapi Kesulitan dan Orang yang Menyakiti
Doa ini sering dibaca untuk memohon agar beban hati diringankan dan urusan diselesaikan oleh Allah:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil.”
Artinya: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." (QS. Ali Imran: 173). - Doa Memohon Kekuatan Hati (Doa Nabi Yunus)
Sangat mustajab dibaca saat hati merasa sesak karena dizalimi:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin.”
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." (HR. Tirmidzi). - Doa Agar Diberi Kesabaran dan Ampunan
Daripada mendoakan kehancuran, Rasulullah ﷺ sering mencontohkan doa agar orang yang menyakiti diberi hidayah, seperti saat beliau disakiti penduduk Thaif:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allahummaghfir li-qaumii fa-innahum laa ya’lamuun.”
Artinya: "Ya Allah, ampunilah kaumku (orang yang menyakitiku), karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari & Muslim).
Jika Anda merasa sangat marah, Rasulullah ﷺ menyarankan untuk membaca Ta'awudz (A'udzu billahi minasy syaithanir rajim) untuk meredam amarah yang dipicu setan, kemudian berwudhu atau mengubah posisi duduk/berdiri.
Salah satu kisah paling ikonik mengenai kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ dalam membalas hinaan adalah kisah seorang warga (sering disebut Yahudi atau kafir Quraisy) yang setiap hari meludahi beliau.
Berikut adalah ringkasan kisahnya sebagai teladan:
- Hinaan yang Berulang: Setiap kali Rasulullah ﷺ berjalan menuju Ka'bah atau melewati jalan tertentu, ada seseorang yang sengaja menunggu hanya untuk meludahi wajah atau melemparkan kotoran ke tubuh beliau.
- Respon Rasulullah ﷺ: Alih-alih marah, memukul balik, atau membalas dengan makian, Rasulullah ﷺ hanya mengusap wajahnya yang terkena ludah dengan penuh kesabaran dan terus melanjutkan perjalanannya tanpa menunjukkan amarah sedikitpun.
- Saat Si Pelaku Sakit: Suatu hari, Rasulullah ﷺ tidak mendapati orang tersebut di tempat biasanya. Beliau justru bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan orang yang selalu meludahinya itu.
- Menjenguk dengan Kebaikan: Setelah mengetahui bahwa orang tersebut sedang sakit keras, Rasulullah ﷺ menjadi orang pertama yang datang menjenguknya. Beliau membawakan makanan (roti) dan menunjukkan perhatian yang tulus.
- Perubahan Hati: Si pelaku merasa sangat malu dan terharu. Ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini ia sakiti dan rendahkan justru menjadi orang yang paling peduli saat ia dalam kesulitan. Di hadapan akhlak mulia tersebut, ia akhirnya bersyahadat dan memeluk Islam.
Informasi lebih lengkap mengenai sirah nabawiyah ini dapat Anda simak di NU Online atau melalui platform edukasi seperti Islami.co.
=== "Yang Mengumpulkan Harta dan Menghitung-hitungnya ===
Poin mengenai "Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya" dalam QS. Al-Humazah ayat 2 merupakan inti dari mengapa seseorang bisa menjadi pengumpat dan pencela.
Dalam kajian tersebut, para ulama menjelaskan beberapa poin krusial:
- Penyakit "Jama’a" dan "'Addadah"
- Jama’a (Mengumpulkan): Merujuk pada orang yang ambisinya hanya menumpuk harta, baik dengan cara yang halal maupun haram, tanpa mempedulikan hak orang lain (seperti zakat atau sedekah).
- 'Addadah (Menghitung-hitung): Bukan sekadar menghitung jumlah, tapi maknanya adalah sangat kikir dan terlalu mencintai hartanya. Ia menghitungnya berulang-ulang karena merasa bangga dan tenang melihat tumpukan hartanya, namun takut hartanya berkurang jika diberikan kepada orang lain.
- Akar Kesombongan (Takabur)
Para mufasir menjelaskan bahwa orang yang terobsesi pada hartanya cenderung merasa lebih mulia dari orang lain. Harta dijadikan standar kemuliaan manusia.- Karena merasa "lebih", ia pun mulai meremehkan orang yang miskin atau tidak setaraf dengannya.
- Inilah yang melahirkan sifat Humazah dan Lumazah (mencaci dan menghina), karena ia merasa orang lain berada di bawah martabatnya.
- Delusi Kekekalan (Ayat 3)
Ayat selanjutnya (Yahsabu anna maalahu akhladah) menjelaskan bahwa ia mengira hartanya bisa membuatnya kekal.- Makna Tafsir: Ia merasa dengan hartanya, ia bisa membeli kesehatan, umur panjang, atau bahkan "kekuasaan" untuk selamat dari kematian. Ia lupa bahwa harta hanyalah titipan dan tidak akan menolongnya di liang lahat maupun di hadapan Allah.
- Relevansi Sosial dalam Kajian
Dalam konteks saat ini, kajian tersebut menekankan bahwa sifat ini bisa muncul dalam bentuk:- Materialisme: Menilai orang hanya dari merek pakaian, jenis kendaraan, atau jabatan.
- Kekikiran: Memiliki banyak harta namun enggan membantu orang di sekitar yang membutuhkan.
Batasan antara mencari nafkah (yang bernilai ibadah) dan menumpuk harta (yang dicela) terletak pada niat dan cara memperlakukannya. Islam sangat mendukung kemandirian ekonomi, namun mencela penghambaan pada materi.
Berikut adalah 4 batasan utama menurut para ulama:
- Niat: Kecukupan vs. Kesombongan
- Dibolehkan: Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, menjaga kehormatan agar tidak meminta-minta, serta niat untuk bersedekah. Harta berada di tangan, bukan di hati.
- Dicela: Mencari harta demi persaingan (takatsur), gengsi, atau merasa lebih hebat dari orang lain. Harta menjadi tujuan utama hidup.
- Sumber dan Cara Perolehan
- Dibolehkan: Harta didapatkan melalui jalan yang halal, jujur, tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar syariat (bebas riba, judi, atau penipuan).
- Dicela: Tidak peduli halal-haram demi tumpukan angka. Inilah yang masuk kategori Jama’a (mengumpulkan tanpa batas) dalam QS. Al-Humazah.
- Pemenuhan Hak Orang Lain (Zakat & Sedekah)
Ini adalah pembeda yang paling nyata:- Dibolehkan: Orang kaya yang dermawan. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik harta yang saleh adalah milik laki-laki yang saleh" (HR. Ahmad). Artinya, ia tahu ada hak orang miskin dalam hartanya.
- Dicela: Sifat 'addadah (menghitung-hitung karena kikir). Ia menimbun harta dan merasa berat untuk mengeluarkan zakat atau menolong sesama karena takut hartanya berkurang.
- Prioritas Ibadah
- Dibolehkan: Pekerjaan atau bisnis tidak membuatnya lalai dari kewajiban kepada Allah (shalat, dzikir, dan tanggung jawab agama lainnya).
- Dicela: Terlalu sibuk menghitung dan mengurus harta hingga waktu untuk akhirat habis. Inilah yang dimaksud dalam ayat "Harta itu membuatnya lalai" (QS. At-Takatsur: 1).
Islam membolehkan Anda menjadi miliarder asalkan harta itu menjadi "kendaraan" Anda menuju ridha Allah, bukan menjadi "tuhan" yang membuat Anda sombong dan merendahkan orang lain.
Harta yang berkah dalam Islam bukan diukur dari jumlah digit di rekening, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang dihasilkan. Berkah (Barakah) secara bahasa berarti ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).
Berikut adalah kriteria harta yang berkah agar kita terhindar dari sifat menumpuk harta yang dicela:
- Diperoleh dengan Cara yang Halal (Thayyib)
Harta yang berkah haruslah bersih dari hulu ke hilir. Jika sumbernya haram (seperti riba, korupsi, atau menipu), maka sebanyak apa pun jumlahnya, keberkahannya akan hilang. Harta haram cenderung membuat pemiliknya merasa tidak pernah cukup (selalu merasa kurang). - Melahirkan Ketenangan Hati
Harta yang berkah tidak membuat pemiliknya menjadi budak dunia yang penuh kecemasan.- Tanda Berkah: Anda merasa cukup (qana'ah), tidur nyenyak, dan tidak takut kehilangan harta secara berlebihan.
- Tanda Tidak Berkah: Harta justru mendatangkan kegelisahan, memicu pertengkaran dalam keluarga, atau membuat seseorang terobsesi menghitung-hitungnya ('addadah) karena takut miskin.
- Menjadi Jembatan Ibadah
Harta disebut berkah jika keberadaannya membuat Anda semakin dekat dengan Allah.- Digunakan untuk membiayai sekolah anak (pendidikan agama).
- Memudahkan Anda untuk berangkat haji/umrah.
- Memberikan Anda waktu luang untuk beribadah karena tidak harus bekerja 24 jam demi mengejar materi.
- Ringan untuk Disedekahkan
Indikator utama harta berkah adalah mudah mengalir kepada orang lain. Jika seseorang merasa berat atau "sayang" saat mengeluarkan zakat dan sedekah, itu pertanda hartanya sedang "mengikat" hatinya. Harta yang berkah akan "tumbuh" saat dibagikan, bukan berkurang. - Membawa Kebaikan bagi Keluarga dan Sekitar
Harta yang berkah tercermin dari kualitas hidup orang-orang di sekitarnya. Anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, keluarga rukun, dan tetangga merasakan manfaat dari kehadiran kita. Sebaliknya, harta yang tidak berkah seringkali menjadi sumber fitnah (ujian) yang merusak hubungan kekeluargaan. - Tidak Melalaikan dari Akhirat
Ini adalah kriteria yang ditekankan dalam kajian "Cahaya Hati Indonesia". Harta yang berkah tidak akan membuat pemiliknya merasa bahwa harta tersebut akan mengekalkannya (akhladah). Ia tetap sadar bahwa kematian pasti datang dan harta hanyalah bekal sementara.
Rasulullah ﷺ sering mendoakan keberkahan harta bagi sahabatnya, seperti doa beliau untuk Anas bin Malik: "Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya." (HR. Bukhari).
Kajian Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews menyoroti bahaya perilaku humazah (pengumpat) dan lumazah (pencela) di era digital, yang menuntut muhasabah atas lisan dan perilaku. Bahasan tersebut menekankan bahwa sifat kikir dan sombong atas harta dapat merusak kehormatan sesama Muslim, sehingga diperlukan taubat untuk menghindari siksa neraka Huthamah. Tonton rekaman lengkapnya melalui Abeyghifran Facebook.
Pasca penayangan kajian "Allah Mencela Keras Para Pengumpat dan Pencaci" di Cahaya Hati Indonesia (CHi) iNews pada 10 Mei 2026, reaksi netizen di media sosial menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam melakukan introspeksi diri.
Berikut adalah beberapa poin utama reaksi netizen di berbagai platform:
- Ajakan Muhasabah (Introspeksi): Banyak netizen yang membagikan potongan video kajian tersebut sebagai pengingat bagi diri sendiri dan orang lain agar lebih menjaga lisan dan jempol di era digital.
- Kritik terhadap Cyber-Bullying: Tema ini memicu diskusi luas di kolom komentar mengenai relevansi Surah Al-Humazah dengan perilaku bullying dan komentar kebencian di media sosial. Netizen sepakat bahwa ancaman neraka Huthamah merupakan peringatan keras bagi para "jempol beracun".
- Fokus pada Keberkahan Harta: Beberapa diskusi juga menyoroti poin tentang sifat kikir dan menumpuk harta. Netizen merasa diingatkan bahwa harta yang dikejar tanpa keberkahan justru bisa memicu sifat sombong yang berujung pada kebiasaan merendahkan orang lain.
- Apresiasi terhadap Narasumber: Penjelasan dari para ustadz (seperti Ustadz Abeey Ghifran) dinilai sangat relevan dengan masalah kesehatan mental saat ini, karena perilaku mencaci terbukti memberikan dampak psikologis yang buruk bagi korban.
"Intinya, flexing harta itu nggak ada apa-apanya dibanding punya lisan yang adem. Yuk, kita pelan-pelan kurangin kebiasaan julid atau ngetik komentar pedas di medsos. Sayang banget kan kalau saldo pahala kita habis cuma gara-gara jempol yang nggak dikontrol? Stay humble and stay kind!"
"Semoga ulasan mengenai tafsir QS. Al-Humazah dan keberkahan harta ini bermanfaat. Mari pulang ke hati masing-masing, memastikan tak ada sombong yang tersisa, agar kelak kita dikumpulkan bersama mereka yang berakhlak mulia."
Barakallahu fiikum! ✨🌙
Disclaimer:
"Google Ai (Mode) made for second opinion and may be inaccurate or mistakes, misleading, or offensive. so double-check responses." Learn more.
Related Articles: [Show]
Bagi Sahabat(2x) yang ingin & berbagi
dipersilahkan untuk melangkapi, dengan menuliskan komentar di bawah :)
Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron
Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron
Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
Comments
Post a Comment
Please Notices! Write NAME (nick name) to make it easier to respond to comments that you write. Comments are rude, racist, and humiliation may not be passed and it will be deleted without warning ...