CHi iNEWS - Keserakahan Manusia Menimbulkan Kesengsaraan
BismillahirRahmanirRahim
Bintang di langit terlihat indah,
Angin sejuk menenangkan rasa,
Jangan biarkan hati serakah,
Agar hidup penuh berkah dan bahagia.
Yuk saksikan kajian Cahaya Hati Indonesia!
dengan tema "KESERAKAHAN MANUSiA MENiMBULKAN KESENGSARAAN"
bersama David Chalik (Pembawa Acara / @@davidchalik) dan Narasumber:
Waktu:Sabtu, 4 April 2026 (15 Syawal 1447 Hijriyah), 12.30 WiB — LiVE
Eksklusif Hanya di iNews!
Courtesy: iNews Media Group || MNC GROUP © 2026
#iNEWS #MNCGROUP #iNEWSMediagroup #CahayaHatiIndonesia #CahayaHati #CHiiNEWS
Kajian Cahaya Hati Indonesia yang ditayangkan di iNews pada hari ini, Sabtu, 4 April 2026, mengangkat tema "Keserakahan Manusia Menimbulkan Kesengsaraan". Berikut adalah ringkasan poin-poin utama dari kajian tersebut:
Berikut adalah poin-poin mengapa keserakahan menimbulkan kesengsaraan menurut Al-Qur'an dan Hadis:
Solusi syariat untuk mengatasi ini adalah dengan Zakat, Sedekah, dan Qana’ah. Memberi akan mengikis sifat kikir dan serakah, sehingga tercipta ketenangan hati dan kesejahteraan bersama.
Sifat Qana'ah (merasa cukup) adalah "rem" terbaik agar kita tidak terjebak dalam keserakahan yang menyengsarakan.
Berikut adalah beberapa cara praktis untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari:
Rasulullah SAW mengajarkan beberapa doa agar kita memiliki hati yang Qana'ah (merasa cukup) dan dijauhkan dari sifat tamak atau serakah. Berikut adalah doa-doa yang paling utama:
Anda bisa mengamalkan doa pertama (Allahumma inni as-alukal huda...) setiap selesai shalat fardhu atau saat bersujud. Doa ini sangat ringkas namun mencakup semua kebutuhan dunia dan akhirat kita.
=== Apa Hukumnya Membela Orang yang Zalim? ===
Dalam syariat Islam, hukum membela orang yang zalim secara membabi buta (mendukung kejahatannya) adalah haram dan termasuk dosa besar. Namun, Islam memberikan definisi unik tentang cara "membela" yang benar.
Berikut adalah rincian hukumnya:
Dalam pandangan ulama kontemporer dan ahli hukum Islam (fikih), membela seseorang di pengadilan—baik sebagai advokat maupun saksi—memiliki batasan moral dan syariat yang ketat. Tugas utama pembela bukan sekadar memenangkan klien, melainkan membantu hakim menegakkan keadilan.
Berikut adalah batasan-batasan utamanya:
Seorang pembela di pengadilan dalam Islam berfungsi sebagai mitra hakim untuk mencari kebenaran. Ia membela hak-hak hukum kliennya (seperti hak bicara, hak diperlakukan manusiawi, dan hak hukuman yang proporsional), namun ia tidak boleh membela perbuatan batilnya.
Memberikan kesaksian palsu (Syahadatuz Zuur) dalam Islam adalah salah satu dosa besar yang disejajarkan dengan syirik (menyekutukan Allah). Karena dampaknya yang sangat merusak keadilan, Islam menetapkan konsekuensi hukum yang sangat tegas.
Berikut adalah konsekuensi hukum bagi pemberi saksi palsu menurut syariat Islam:
Konsekuensi hukum Islam bagi saksi palsu bertujuan untuk menjaga kehormatan dan hak manusia. Tanpa kejujuran saksi, sistem hukum akan runtuh dan orang zalim akan terus berkuasa.
=== Apa Maksud Makanan Muslim saat Kiamat Hanyalah Dzikir? ===
Maksud dari pernyataan bahwa makanan orang beriman (Muslim) di akhir zaman atau menjelang kiamat adalah dzikir merujuk pada sebuah hadis shahih yang menceritakan kondisi umat manusia saat munculnya Dajjal.
Berikut adalah penjelasan rincinya:
Dzikir menjadi makanan adalah bentuk perlindungan Allah bagi orang beriman agar mereka tidak tunduk pada fitnah Dajjal hanya karena urusan perut.
Terdapat beberapa dzikir dan doa spesifik yang diajarkan Rasulullah SAW untuk membentengi diri dari berbagai fitnah, khususnya fitnah akhir zaman (Dajjal). Berikut adalah bacaan yang disarankan untuk dibiasakan:
=== Bolehkah Membalas Kedzaliman Orang Lain? Apa Batasannya? ===
Dalam syariat Islam, membalas kedzaliman pada dasarnya diperbolehkan, namun Islam sangat mengatur caranya agar balasan tersebut tidak berubah menjadi kedzaliman baru.
Berikut adalah tingkatan dan batasan dalam membalas kedzaliman:
Mengelola hati saat menghadapi kezaliman adalah salah satu ujian spiritual terberat. Islam mengajarkan beberapa langkah praktis agar batin tetap tenang dan tidak ikut "kotor" oleh perilaku orang tersebut:
Ketenangan hati muncul saat kita berhenti berharap orang dzalim itu berubah, dan mulai fokus pada hubungan kita dengan Allah di tengah ujian tersebut.
Memaafkan adalah urusan hati, sedangkan melupakan (atau tetap waspada) adalah urusan akal. Islam tidak mewajibkan kita menjadi orang yang "naif" atau membiarkan diri dizalimi berulang kali hanya karena sudah memaafkan.
Berikut adalah cara praktis memaafkan tanpa harus melupakan agar hati tetap lega namun tetap waspada:
Memaafkan membuat Anda bebas dari masa lalu; Kewaspadaan membuat Anda aman di masa depan. Keduanya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
=== Bagaimana Umat Islam Menyikapi Keadaan Perang saat Ini? ===
Menyikapi eskalasi konflik global yang terjadi saat ini, khususnya ketegangan besar di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada April 2026, umat Islam ditekankan untuk mengedepankan prinsip-prinsip syariat dan kemanusiaan.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai sikap yang dianjurkan bagi umat Islam berdasarkan situasi terkini:
Semoga literasi dan nilai-nilai syariat mulai dari bahasan keserakahan hingga cara praktis mengelola hati dan menyikapi kondisi dunia saat ini bisa membawa ketenangan batin dan kemantapan sikap dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. ✨🌙
Google Ai (Mode) can make mistakes, so double-check responses.
Bintang di langit terlihat indah,
Angin sejuk menenangkan rasa,
Jangan biarkan hati serakah,
Agar hidup penuh berkah dan bahagia.
Yuk saksikan kajian Cahaya Hati Indonesia!
dengan tema "KESERAKAHAN MANUSiA MENiMBULKAN KESENGSARAAN"
bersama David Chalik (Pembawa Acara / @@davidchalik) dan Narasumber:
- Habib Muhammad Syahab - Penceramah (@muhammad_syahab)
- Ustadz Tile - Penceramah (@abangtile_official)
Waktu:Sabtu, 4 April 2026 (15 Syawal 1447 Hijriyah), 12.30 WiB — LiVE
Eksklusif Hanya di iNews!
Watch Streamed at @OfficialiNewsTV!
Courtesy: iNews Media Group || MNC GROUP © 2026
#iNEWS #MNCGROUP #iNEWSMediagroup #CahayaHatiIndonesia #CahayaHati #CHiiNEWS
Download M4A Audio xHE-AAC
- File Name: 20260404_CHi_#Keserakahan Manusia Menimbulkan Kesengsaraan xHE-AAC.iNEWS-HD.m4a
- File Info: 24.5 MiB, M4A-Audio, 1 Hour(s) 3 min 5 sec, Exhale 1.2.2-c33cf75b, USAC, xHE-AAC.eSBR+Preset #b, 54.0 kb/s, Variable, 2 channels, 48.0 KHz
- Download Link: [https://1024terabox.com/s/1LUKpwDbnP1nmtWOEylpi6Q]
Google Ai (Mode) Overview
Kajian Cahaya Hati Indonesia yang ditayangkan di iNews pada hari ini, Sabtu, 4 April 2026, mengangkat tema "Keserakahan Manusia Menimbulkan Kesengsaraan". Berikut adalah ringkasan poin-poin utama dari kajian tersebut:
- Detail Acara:
- Waktu: 12.30 WiB .
- Lokasi: LiVE dari Masjid Agung Al Ikhlas.
- Narasumber: Habib Muhammad Syahab dan Ustadz Tile.
- Host: David Chalik.
- Poin Utama Kajian:
- Bahaya Penyakit Hati: Keserakahan adalah penyakit hati yang dapat merusak keberkahan hidup. Diingatkan agar umat tidak membiarkan hati dikuasai rasa serakah agar hidup tetap bahagia dan penuh berkah.
- Dampak Terhadap Alam: Keserakahan manusia dalam bentuk eksploitasi tanpa batas dapat merusak keseimbangan bumi dan memicu bencana alam.
- Amanah vs Eksploitasi: Islam mengajarkan bahwa alam adalah amanah yang harus dijaga dan dirawat dengan bijak, bukan objek untuk dikuras demi kepentingan pribadi semata.
- Solusi Spiritual: Mengajak jamaah untuk lebih bersyukur dan merasa cukup (qana'ah) agar terhindar dari kesengsaraan dunia dan akhirat akibat ambisi yang tidak terkendali.
Berikut adalah poin-poin mengapa keserakahan menimbulkan kesengsaraan menurut Al-Qur'an dan Hadis:
- Merusak Ketenangan Batin (Harta Tak Pernah Cukup)
Secara psikologis-spiritual, orang yang serakah tidak akan pernah merasakan qana’ah (merasa cukup). Rasulullah SAW bersabda:
"Seandainya manusia memiliki dua lembah berisi harta, ia pasti menginginkan lembah yang ketiga..." (HR. Bukhari).
Dampaknya: Hati selalu merasa miskin dan gelisah, sehingga ia tersiksa oleh ambisinya sendiri. - Mengundang Azab Melalui Kezaliman
Keserakahan sering kali memaksa seseorang menghalalkan segala cara, seperti korupsi, riba, atau mengambil hak orang miskin.- QS. At-Takatsur (1-2): "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
- Dampaknya: Kezaliman ini menjadi kegelapan (zhulumat) di hari kiamat dan menyebabkan kesengsaraan sosial (kesenjangan ekonomi).
- Kerusakan Alam sebagai "Fasad"
Islam memandang manusia sebagai Khalifah (penjaga bumi). Jika manusia mengeksploitasi alam hanya demi keuntungan pribadi (serakah), maka terjadi kerusakan.- QS. Ar-Rum (41): "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..."
- Dampaknya: Bencana alam seperti banjir dan longsor adalah bentuk "kesengsaraan" nyata akibat hilangnya keseimbangan ekosistem demi materi.
- Melalaikan Ibadah dan Akhirat
Keserakahan membuat dunia menjadi tujuan utama (hubbud dunya), sehingga seseorang lalai dari tujuan penciptaannya.- Dampaknya: Kehilangan keberkahan dalam hidup dan penyesalan di akhirat karena harta yang dikumpulkan dengan cara yang salah tidak akan menolong.
Solusi syariat untuk mengatasi ini adalah dengan Zakat, Sedekah, dan Qana’ah. Memberi akan mengikis sifat kikir dan serakah, sehingga tercipta ketenangan hati dan kesejahteraan bersama.
Sifat Qana'ah (merasa cukup) adalah "rem" terbaik agar kita tidak terjebak dalam keserakahan yang menyengsarakan.
Berikut adalah beberapa cara praktis untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari:
- Gunakan Rumus "Melihat ke Bawah" untuk Urusan Dunia
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu melihat orang yang posisinya berada di bawah kita dalam hal materi (harta, fisik, fasilitas).- Praktik: Jika merasa motor kita tua, lihatlah mereka yang hanya punya sepeda. Jika merasa rumah kita kecil, lihatlah mereka yang masih mengontrak atau tunawisma. Ini akan memicu rasa syukur seketika.
- Bedakan antara "Kebutuhan" dan "Keinginan"
Keserakahan sering muncul karena kita mengejar keinginan yang tidak ada habisnya, bukan memenuhi kebutuhan yang sebenarnya terbatas.- Praktik: Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: "Apakah saya butuh ini untuk bertahan hidup/ibadah, atau hanya ingin pamer (gengsi)?" Jika hanya keinginan, tunda atau batalkan.
- Rutinkan Sedekah (Meskipun Sedikit)
Sedekah adalah obat penawar sifat kikir dan serakah. Dengan memberi, kita melatih mental bahwa "harta bukan milik kita sepenuhnya" dan "berbagi tidak membuat kita miskin."- Praktik: Sisihkan uang di awal waktu (setelah gajian/dapat untung dagang), bukan sisa di akhir bulan. Ini melatih jiwa untuk tidak terikat secara berlebihan pada materi.
- Sadari bahwa Rezeki Sudah Terakar (Jaminan Allah)
Yakinlah bahwa jatah rezeki setiap manusia tidak akan tertukar dan tidak akan berhenti sampai ajalnya tiba.- Praktik: Saat melihat orang lain lebih sukses, ucapkan "Masya Allah". Yakini bahwa Allah sedang memberi ujian kekayaan padanya, dan Allah memberi kita kecukupan sesuai kebutuhan kita.
- Fokus pada Keberkahan, Bukan Jumlah
Harta yang banyak tapi tidak berkah justru akan mendatangkan penyakit, kegelisahan, atau masalah keluarga. Harta yang sedikit tapi berkah akan membawa ketenangan dan manfaat.- Praktik: Selalu berdoa, "Ya Allah, berilah keberkahan pada apa yang Engkau anugerahkan kepadaku." Fokuslah pada cara yang halal, karena yang halal pasti membawa ketenangan.
- Batasi Konsumsi Konten "Lifestlye" Berlebihan
Sering melihat flexing (pamer kekayaan) di media sosial bisa memicu rasa iri dan tidak puas dengan apa yang dimiliki.- Praktik: Unfollow atau batasi akun-akun yang membuat Anda merasa "kurang" atau merasa harus berkompetisi dalam hal kemewahan duniawi.
Rasulullah SAW mengajarkan beberapa doa agar kita memiliki hati yang Qana'ah (merasa cukup) dan dijauhkan dari sifat tamak atau serakah. Berikut adalah doa-doa yang paling utama:
- Doa Meminta Kecukupan dan Ketaatan
Ini adalah doa yang sangat populer untuk memohon empat hal utama: petunjuk, ketaatan, kesucian diri, dan kekayaan hati (merasa cukup).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
"Allahumma inni as-alukal huda wat tuqa wal 'afafa wal ghina."
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri (terjaga dari hal haram), dan kekayaan hati (merasa cukup)." (HR. Muslim). - Doa agar Diberi Keberkahan pada Rezeki yang Ada
Agar kita tidak selalu melirik milik orang lain, kita perlu memohon agar apa yang kita miliki saat ini menjadi berkah.
اللَّهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ
"Allahumma qanni'nii bimaa razaqtanii, wa baarik lii fiihi."
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah aku merasa cukup (qana'ah) dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, dan berkahilah rezeki tersebut untukku." (HR. Al-Hakim). - Doa Berlindung dari Hati yang Tidak Pernah Kenyang
Rasulullah SAW juga sering berlindung dari nafsu yang tidak pernah merasa puas (ciri utama keserakahan).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ
"Allahumma inni a'udzu bika min 'ilmin laa yanfa', wa min qalbin laa yakhsya', wa min nafsin laa tasyba'."
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dan dari nafsu yang tidak pernah merasa kenyang/puas." (HR. Muslim).
Anda bisa mengamalkan doa pertama (Allahumma inni as-alukal huda...) setiap selesai shalat fardhu atau saat bersujud. Doa ini sangat ringkas namun mencakup semua kebutuhan dunia dan akhirat kita.
=== Apa Hukumnya Membela Orang yang Zalim? ===
Dalam syariat Islam, hukum membela orang yang zalim secara membabi buta (mendukung kejahatannya) adalah haram dan termasuk dosa besar. Namun, Islam memberikan definisi unik tentang cara "membela" yang benar.
Berikut adalah rincian hukumnya:
- Larangan Membela Kezaliman
Mendukung, menutupi, atau membantu seseorang tetap melakukan kezaliman sangat dilarang.- Dalil Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu menjadi pembela bagi orang-orang yang khianat." (QS. An-Nisa: 105).
- Ancaman: Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa yang membantu suatu perselisihan secara zalim, maka ia senantiasa berada dalam kemurkaan Allah sampai ia meninggalkannya.
- Membela yang Berarti "Mencegah"
Ada satu hadis terkenal di mana Rasulullah SAW bersabda: "Tolonglah saudaramu, baik ia orang yang zalim maupun orang yang dizalimi."
Para sahabat bertanya, "Kami menolongnya jika ia dizalimi, tapi bagaimana kami menolongnya jika ia yang berbuat zalim?" Rasulullah menjawab:
"Kamu cegah dia dari berbuat zalim, itulah cara menolongnya." (HR. Bukhari).
Jadi, membela orang zalim yang dibenarkan adalah dengan menghentikan aksinya, menasihatinya, atau memberikan sanksi hukum agar ia tidak terus menambah dosanya. - Membela di Hadapan Hukum (Advokasi)
Jika maksudnya adalah membela seseorang dalam persidangan:- Haram: Jika pembela tahu kliennya salah, namun ia mencari celah hukum atau memutarbalikkan fakta untuk membebaskannya dari hukuman yang sah. Ini termasuk kategori membantu perbuatan dosa (ta'awun 'alal itsmi).
- Boleh: Jika pembela bertujuan memastikan orang tersebut mendapatkan hukuman yang adil (tidak dizalimi balik dengan hukuman yang melebihi batas) atau memastikan hak-hak dasarnya sebagai manusia tetap terpenuhi.
- Mendapat Laknat: Ikut memikul dosa dari kezaliman yang dilakukan orang tersebut.
- Menghambat Keadilan: Membuat tatanan sosial rusak dan merugikan orang banyak.
- Doa Tidak Dikabulkan: Terputusnya keberkahan karena mendukung kemaksiatan.
Dalam pandangan ulama kontemporer dan ahli hukum Islam (fikih), membela seseorang di pengadilan—baik sebagai advokat maupun saksi—memiliki batasan moral dan syariat yang ketat. Tugas utama pembela bukan sekadar memenangkan klien, melainkan membantu hakim menegakkan keadilan.
Berikut adalah batasan-batasan utamanya:
- Niat Menegakkan Kebenaran (Ihqaqul Haqq)
Niat utama haruslah untuk memastikan keadilan berjalan, bukan semata-mata karena bayaran atau profesionalisme buta.- Batasannya: Jika pembela yakin kliennya bersalah, ia tidak boleh membelanya agar bebas murni, melainkan membelanya agar mendapatkan hukuman yang adil (tidak dizalimi atau dijatuhi hukuman yang melebihi batas syariat).
- Larangan Menyembunyikan Fakta (Kithman al-Haqq)
Ulama sepakat bahwa menyembunyikan bukti yang dapat mengungkap kebenaran adalah haram.- Batasannya: Pembela dilarang memanipulasi bukti atau mengarahkan saksi untuk memberikan keterangan palsu. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 42).
- Larangan Menuduh Orang Lain Tanpa Bukti
Seringkali dalam pembelaan, pihak pembela mencoba melimpahkan kesalahan kepada pihak lain demi meringankan kliennya.- Batasannya: Haram hukumnya menuduh orang yang tidak bersalah demi menyelamatkan klien yang bersalah. Ini termasuk bentuk kezaliman ganda.
- Batasan dalam Memberi Argumen (Jadal)
Argumen hukum harus logis dan sesuai fakta, bukan retorika yang menyesatkan.- Batasannya: Menggunakan celah hukum untuk memutarbalikkan fakta hukum yang sudah jelas (misal: membebaskan pembunuh karena prosedur administratif yang cacat, padahal bukti pembunuhan sudah pasti) dianggap sebagai perbuatan yang menghalangi jalan Allah.
- Prinsip "Membela Orang Zalim" adalah Mencegahnya
Ulama kontemporer menekankan hadis "Tolonglah saudaramu yang zalim dengan mencegahnya."- Batasannya: Bentuk pembelaan bagi klien yang bersalah adalah dengan menasihatinya untuk bertaubat, mengakui kesalahan, dan menjalani hukuman sebagai penggugur dosa (kafarat) di akhirat, bukan justru mengajarinya cara berbohong.
- Hak Menolak Perkara
Seorang pembela muslim memiliki hak, bahkan kewajiban, untuk menolak menangani perkara jika sejak awal ia tahu bahwa tujuan kliennya adalah untuk melakukan kezaliman atau mengambil hak orang lain secara batil.
Seorang pembela di pengadilan dalam Islam berfungsi sebagai mitra hakim untuk mencari kebenaran. Ia membela hak-hak hukum kliennya (seperti hak bicara, hak diperlakukan manusiawi, dan hak hukuman yang proporsional), namun ia tidak boleh membela perbuatan batilnya.
Memberikan kesaksian palsu (Syahadatuz Zuur) dalam Islam adalah salah satu dosa besar yang disejajarkan dengan syirik (menyekutukan Allah). Karena dampaknya yang sangat merusak keadilan, Islam menetapkan konsekuensi hukum yang sangat tegas.
Berikut adalah konsekuensi hukum bagi pemberi saksi palsu menurut syariat Islam:
- Hukuman Takzir (Kebijakan Hakim)
Dalam hukum Islam, kesaksian palsu tidak memiliki hukuman Had yang kaku (seperti cambuk atau potong tangan secara otomatis), melainkan masuk dalam kategori Takzir. Hakim memiliki wewenang untuk menentukan hukuman yang dapat memberi efek jera, seperti:- Penjara: Untuk menghentikan bahayanya bagi masyarakat.
- Denda: Jika kebohongannya menyebabkan kerugian materi pada orang lain.
- Tasyhir (Pengumuman Publik): Pelaku diumumkan secara terbuka (di pasar, media, atau depan umum) bahwa ia adalah seorang pembohong agar orang lain tidak lagi mempercayainya.
- Penggantian Kerugian (Ganti Rugi
Jika kesaksian palsu tersebut mengakibatkan seseorang kehilangan harta atau dirugikan secara finansial, maka pemberi saksi palsu wajib mengganti rugi secara penuh kepada korban.- Contoh: Jika karena saksi palsu si A harus membayar denda 10 juta, maka si saksi palsu wajib membayar 10 juta tersebut kepada si A setelah kebohongannya terungkap.
- Diskualifikasi Permanen sebagai Saksi
Seseorang yang pernah terbukti memberikan kesaksian palsu kehilangan sifat 'Adalah (kredibilitas moral).- Konsekuensi: Namanya akan dicatat sebagai orang yang tidak layak diterima kesaksiannya dalam urusan apa pun di masa depan (pernikahan, sengketa bisnis, dll), kecuali jika ia bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh dan memperbaiki diri secara nyata dalam waktu lama.
- Hukuman Qisas (Jika Menyebabkan Kematian)
Ini adalah pendapat yang sangat kuat di antara sebagian ulama. Jika seseorang memberikan kesaksian palsu yang menyebabkan seseorang dijatuhi hukuman mati, lalu terbukti bahwa saksi tersebut sengaja berbohong:- Maka pemberi saksi palsu tersebut dapat dijatuhi hukuman mati pula sebagai bentuk Qisas (pembalasan yang setimpal), karena ia dianggap sebagai pembunuh secara tidak langsung.
- Konsekuensi di Akhirat
Al-Qur'an dan Hadis sangat keras dalam hal ini:- QS. Al-Hajj: 30: "...dan jauhilah perkataan dusta." (Ayat ini menyandingkan larangan menyembah berhala dengan larangan saksi palsu).
- Ancaman Neraka: Rasulullah SAW bersabda bahwa kaki pemberi saksi palsu tidak akan bergeser (pada hari kiamat) sebelum Allah memastikan tempatnya di neraka.
Konsekuensi hukum Islam bagi saksi palsu bertujuan untuk menjaga kehormatan dan hak manusia. Tanpa kejujuran saksi, sistem hukum akan runtuh dan orang zalim akan terus berkuasa.
=== Apa Maksud Makanan Muslim saat Kiamat Hanyalah Dzikir? ===
Maksud dari pernyataan bahwa makanan orang beriman (Muslim) di akhir zaman atau menjelang kiamat adalah dzikir merujuk pada sebuah hadis shahih yang menceritakan kondisi umat manusia saat munculnya Dajjal.
Berikut adalah penjelasan rincinya:
- Konteks Munculnya Dajjal
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sebelum Dajjal keluar, bumi akan mengalami kekeringan dan kelaparan yang sangat hebat selama tiga tahun.- Tahun pertama: Langit menahan sepertiga hujan, bumi menahan sepertiga tanaman.
- Tahun kedua: Langit menahan dua pertiga hujan, bumi menahan dua pertiga tanaman.
- Tahun ketiga: Tidak ada setetes pun air hujan dan tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh.
- Dzikir sebagai Pengganti Makanan Fisik
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, lalu apa yang menghidupkan manusia (orang beriman) pada saat itu?"
Rasulullah SAW menjawab:
التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَالتَّحْمِيدُ، وَيُجْرَى ذَلِكَ عَلَيْهِمْ مُجْرَى الطَّعَامِ
"Tasbih (Subhanallah), Takbir (Allahu Akbar), dan Tahmid (Alhamdulillah). Hal itu akan mengalir dalam tubuh mereka sebagaimana mengalirnya makanan." (HR. Ibnu Majah & Hakim). - Makna "Mengalir sebagaimana Makanan"
Ulama menjelaskan maksud "dzikir menjadi makanan" dalam dua sudut pandang:- Kekuatan Fisik Secara Mukjizat: Allah SWT memberikan kekuatan fisik kepada orang beriman hanya melalui energi spiritual dzikir. Sebagaimana malaikat yang tidak makan dan minum namun tetap kuat karena terus bertasbih kepada Allah.
- Rasa Kenyang Spiritual: Dzikir akan menghilangkan rasa lapar dan haus sehingga tubuh orang beriman tetap terjaga energinya meskipun tidak ada asupan kalori secara fisik.
- Hikmah di Baliknya
Ini adalah ujian tauhid. Dajjal akan datang membawa "gunung roti" dan air untuk menggoda manusia yang kelaparan agar mengakuinya sebagai Tuhan.- Orang yang serakah dan tidak beriman akan mengikuti Dajjal demi makanan fisik.
- Orang yang beriman akan mencukupkan diri dengan dzikir kepada Allah sebagai sumber kekuatan mereka.
Dzikir menjadi makanan adalah bentuk perlindungan Allah bagi orang beriman agar mereka tidak tunduk pada fitnah Dajjal hanya karena urusan perut.
Terdapat beberapa dzikir dan doa spesifik yang diajarkan Rasulullah SAW untuk membentengi diri dari berbagai fitnah, khususnya fitnah akhir zaman (Dajjal). Berikut adalah bacaan yang disarankan untuk dibiasakan:
- Doa Perlindungan di Akhir Tasyahud (Sebelum Salam)
Ini adalah doa yang paling ditekankan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca setiap kali shalat tepat sebelum salam.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
"Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam, wa min 'adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjal."
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal." (HR. Muslim). - Membaca dan Menghafal Surat Al-Kahfi
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang menghafal sepuluh ayat pertama (atau dalam riwayat lain sepuluh ayat terakhir) dari Surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.- Praktik Luangkan waktu setiap hari Jumat (atau setiap hari) untuk membacanya agar lisan dan hati terbiasa.
- Dzikir Pagi dan Petang (Benteng Harian)
Salah satu dzikir yang sangat kuat untuk perlindungan dari segala gangguan adalah:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Bismillahi-ladzi laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fis samaa'i wa huwas samii'ul 'aliim."
Artinya: "Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang berbahaya di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Dibaca 3x setiap pagi dan petang). - Dzikir "Ya Hayyu Ya Qayyum"
Dzikir ini disebut sebagai Ismullah al-A'zham (Nama Allah yang Agung). Saat mengalami kesempitan atau kesulitan (seperti kondisi kelaparan di akhir zaman), dzikir ini memberikan kekuatan luar biasa pada jiwa.
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
"Ya Hayyu Ya Qayyum, bi rahmatika astaghiits."
Artinya: "Wahai Rabb yang Maha Hidup, wahai Rabb yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan." - Memperbanyak Tasbih, Tahmid, dan Takbir
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dzikir ini akan menjadi "makanan" bagi orang beriman. Membiasakannya sekarang akan membuat lisan kita otomatis mengucapkannya saat masa sulit tiba.- Subhanallah (Maha Suci Allah)
- Alhamdulillah (Segala Puji bagi Allah)
- Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
=== Bolehkah Membalas Kedzaliman Orang Lain? Apa Batasannya? ===
Dalam syariat Islam, membalas kedzaliman pada dasarnya diperbolehkan, namun Islam sangat mengatur caranya agar balasan tersebut tidak berubah menjadi kedzaliman baru.
Berikut adalah tingkatan dan batasan dalam membalas kedzaliman:
- Tingkatan Pertama: Membalas dengan Setimpal (Adil)
Seseorang diizinkan membalas perbuatan buruk orang lain, namun syarat mutlaknya adalah harus sebanding dan tidak boleh melebihi apa yang diterima.- Dalil: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa..." (QS. Asy-Syura: 40).
- Batasannya: Jika seseorang mencaci Anda dengan satu kalimat, Anda tidak boleh membalas dengan dua kalimat atau menghina fisiknya/keluarganya. Jika balasan Anda berlebihan, maka Anda yang berbalik menjadi pihak yang zalim.
- Tingkatan Kedua: Menuntut Hak Melalui Hukum
Jika kedzaliman berkaitan dengan harta, fisik, atau kehormatan yang berat, cara terbaik adalah membawanya ke jalur hukum (hakim/pihak berwenang).- Batasannya: Jangan melakukan "hakim sendiri" yang melanggar aturan negara atau norma masyarakat, karena hal itu bisa menimbulkan kekacauan (mafsadah) yang lebih besar.
- Tingkatan Ketiga: Mendoakan Keburukan (Mubah, tapi terbatas)
Orang yang dizalimi memiliki "senjata" berupa doa yang dikabulkan oleh Allah. - Batasannya: Boleh mendoakan agar orang tersebut mendapat pelajaran atau agar hak kita kembali. Namun, para ulama menyarankan agar tidak mendoakan keburukan yang melampaui batas (seperti mendoakan seluruh keturunannya celaka).
- Tingkatan Tertinggi: Memaafkan dan Bersabar (Afhdal/Paling Utama)
Ini adalah tingkatan yang paling dicintai Allah. Memaafkan bukan berarti kalah, melainkan menunjukkan kekuatan jiwa.- Dalil: "...tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (QS. Asy-Syura: 40).
- Janji Allah: Allah menjanjikan kemuliaan dan pahala tanpa batas bagi mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan saat ia mampu membalas.
- Dilarang Melakukan Kedzaliman Serupa yang Haram: Jika seseorang mendzalimi Anda dengan cara memfitnah/berzina/berbohong, Anda tidak boleh membalas dengan cara yang sama (memfitnah balik atau berbohong), karena perbuatan tersebut hukum asalnya haram bagi siapa pun.
- Dilarang Membalas kepada Orang yang Tidak Terlibat: Jangan melampiaskan kemarahan kepada keluarga atau teman si pelaku yang tidak ikut campur dalam urusan tersebut.
- Tujuannya adalah Perbaikan: Membalas diperbolehkan jika tujuannya memberi efek jera agar pelaku tidak mendzalimi orang lain lagi. Namun jika memaafkan lebih bisa mengubah perilaku si pelaku menjadi baik, maka memaafkan lebih utama.
Mengelola hati saat menghadapi kezaliman adalah salah satu ujian spiritual terberat. Islam mengajarkan beberapa langkah praktis agar batin tetap tenang dan tidak ikut "kotor" oleh perilaku orang tersebut:
- Sadari bahwa Allah Maha Melihat (Al-Bashir)
Keresahan sering muncul karena kita merasa ketidakadilan terjadi begitu saja.- Praktik: Tanamkan keyakinan bahwa tidak ada satu pun perbuatan dzalim yang luput dari pengawasan Allah. Allah berfirman: "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim." (QS. Ibrahim: 42). Kesadaran ini akan membuat Anda merasa "dibela" oleh Dzat yang Maha Kuasa.
- Pahami bahwa Kedzaliman adalah "Hutang" Pelaku
Dalam timbangan akhirat, kezaliman seseorang kepada Anda sebenarnya adalah transfer pahala dari dia ke Anda, atau transfer dosa dari Anda ke dia.- Praktik: Lihatlah pelaku sebagai orang yang sedang "merugi secara tragis". Ia sedang menghancurkan tabungan akhiratnya sendiri demi menyakiti Anda. Rasa marah biasanya akan berubah menjadi rasa kasihan (iba) saat kita melihat dari sudut pandang ini.
- Gunakan Doa sebagai Saluran Emosi
Alih-alih memendam amarah yang merusak kesehatan, tumpahkan semuanya kepada Allah dalam sujud atau doa.- Praktik: Curhatlah sedetail mungkin kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang yang dizalimi itu tidak ada penghalangnya dengan Allah. Kekuatan doa ini akan memberi ketenangan karena Anda telah menyerahkan urusan tersebut kepada "Pengacara" terbaik.
- Batasi Interaksi dan Jaga Jarak (Hajr Jamil)
Islam tidak mewajibkan Anda untuk terus akrab dengan orang yang menyakiti Anda jika hal itu merusak mental dan iman Anda.- Praktik: Lakukan Hajr Jamil (menjauh dengan cara yang baik). Tetaplah bersikap sopan jika bertemu, namun batasi interaksi yang tidak perlu agar hati tidak terus-menerus terpapar aura negatif dari pelaku.
- Fokus pada Respon, Bukan pada Aksi Pelaku
Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan, tapi kita punya kendali penuh atas bagaimana kita meresponnya.- Praktik: Katakan pada diri sendiri: "Dia boleh berbuat buruk, tapi saya tidak akan membiarkan dia merusak karakter dan ketenangan hati saya." Menjaga akhlak tetap baik di depan orang dzalim adalah kemenangan mental yang sesungguhnya.
- Ingat Janji Allah bagi yang Menahan Marah
Allah menjanjikan surga seluas langit dan bumi bagi orang yang mampu menahan amarahnya (Al-Kadhiminal Ghaizh).- Praktik: Saat dada terasa sesak, tarik napas dalam, baca Ta'awudz (A'udzu billahi minasy syaithonir rajiim), dan ingatlah bahwa setiap detik kesabaran Anda sedang dicatat sebagai amal saleh yang sangat berat timbangannya.
Ketenangan hati muncul saat kita berhenti berharap orang dzalim itu berubah, dan mulai fokus pada hubungan kita dengan Allah di tengah ujian tersebut.
Memaafkan adalah urusan hati, sedangkan melupakan (atau tetap waspada) adalah urusan akal. Islam tidak mewajibkan kita menjadi orang yang "naif" atau membiarkan diri dizalimi berulang kali hanya karena sudah memaafkan.
Berikut adalah cara praktis memaafkan tanpa harus melupakan agar hati tetap lega namun tetap waspada:
- Pahami Perbedaan Antara "Maaf" dan "Percaya Kembali"
Memaafkan berarti Anda melepaskan hak Anda untuk menuntut balas atau mendendam. Namun, kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun kembali oleh pelaku, bukan kewajiban Anda untuk memberikannya secara otomatis.- Praktik: Katakan dalam hati, "Saya memaafkan kesalahanmu demi ketenangan hati saya, tapi saya belum tentu bisa mempercayaimu dengan cara yang sama seperti dulu."
- Gunakan Prinsip "Mukmin Tidak Dipatuk Ular Dua Kali"
Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali" (HR. Bukhari & Muslim).- Praktik: Menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran (database). Jika seseorang pernah menipu Anda dalam bisnis, maafkan orangnya agar dendam hilang, tapi jangan pernah lagi berbisnis dengannya atau berikan syarat yang jauh lebih ketat di masa depan.
- Maafkan untuk "Diri Sendiri," Bukan untuk "Dia"
Banyak orang sulit memaafkan karena merasa pelaku tidak layak mendapatkan maaf. Ubahlah sudut pandangnya: Anda memaafkan agar sampah emosi tidak lagi menumpuk di hati Anda.- Praktik: Bayangkan dendam itu seperti memegang bara api yang panas. Anda melepaskan bara itu bukan agar api itu padam, tapi agar tangan Anda tidak terus terbakar. Memaafkan adalah cara Anda "pensiun" dari rasa sakit.
- Batasi Akses (Healthy Boundaries)
Memaafkan tidak berarti harus kembali akrab atau sering mengobrol. Anda bisa memaafkan seseorang sepenuhnya sambil tetap menjaga jarak demi kesehatan mental.- Praktik: Jika melihat wajahnya atau media sosialnya masih membuat Anda sesak, lakukan mute atau block. Anda sudah memaafkan di hadapan Allah, namun Anda berhak menjaga privasi dan kedamaian hidup Anda.
- Ubah "Kenangan Pahit" Menjadi "Hikmah Ketangguhan"
Alih-alih mengingat detail rasa sakitnya, ingatlah betapa kuatnya Anda bisa melewati masa-masa didzalimi tersebut.- Praktik: Setiap kali teringat kejadian itu, alihkan pikiran ke: "Terima kasih Ya Allah, melalui kejadian ini saya jadi tahu siapa teman sejati saya dan saya jadi lebih dekat dengan-Mu." Fokus pada pertumbuhan diri Anda, bukan pada kesalahan pelaku.
- Doakan Hidayah (Cara Paling Ampuh Meluluhkan Sesak)
Mendoakan orang yang menyakiti kita adalah cara tercepat untuk membuat hati "plong". Sulit sekali merasa benci kepada seseorang yang namanya kita sebut dalam doa kebaikan.- Praktik: Doakan agar Allah memberi dia hidayah sehingga ia tidak mendzalimi orang lain lagi. Dengan mendoakannya, Anda sedang menunjukkan bahwa Anda berada di level spiritual yang jauh lebih tinggi darinya.
Memaafkan membuat Anda bebas dari masa lalu; Kewaspadaan membuat Anda aman di masa depan. Keduanya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
=== Bagaimana Umat Islam Menyikapi Keadaan Perang saat Ini? ===
Menyikapi eskalasi konflik global yang terjadi saat ini, khususnya ketegangan besar di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada April 2026, umat Islam ditekankan untuk mengedepankan prinsip-prinsip syariat dan kemanusiaan.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai sikap yang dianjurkan bagi umat Islam berdasarkan situasi terkini:
- Mengutamakan Persatuan dan Menghindari Sektarianisme: Tokoh-tokoh Islam dan lembaga seperti Muhammadiyah mengingatkan agar umat Islam bersatu dan tidak terjebak dalam sentimen mazhab atau sektarian dalam menyikapi perang. Fokus utama adalah menjaga martabat kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah.
- Melakukan Aksi Kemanusiaan dan Solidaritas: Di tengah jatuhnya korban, termasuk prajurit TNi dalam misi perdamaian di Lebanon pada akhir Maret 2026, umat Islam menunjukkan solidaritas melalui doa bersama, salat gaib, dan penyaluran bantuan kemanusiaan.
- Berpegang pada Prinsip Perang dalam Islam: Sesuai syariat, perang hanya diperbolehkan dalam kondisi darurat untuk mempertahankan diri, membela hak yang dilanggar, atau melindungi keamanan. Umat diingatkan bahwa perdamaian adalah tujuan utama, dan perang harus tetap mematuhi hukum humaniter Islam.
- Membangun Daya Tahan dan Kewaspadaan Global: Situasi perang seperti di Selat Hormuz berdampak pada krisis energi dan biaya hidup. Organisasi seperti Angkatan Belia Islam Malaysia (ABiM) menekankan peran pemuda dalam membangun daya tahan negara melalui diplomasi dan pemahaman krisis yang tepat.
- Tetap Menjalankan Ibadah dengan Khusyuk: Meskipun terjadi gejolak, persiapan ibadah besar seperti Haji 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal (keberangkatan perdana 22 April 2026). Umat diajak untuk tetap tawakal dan menjadikan masalah global sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga literasi dan nilai-nilai syariat mulai dari bahasan keserakahan hingga cara praktis mengelola hati dan menyikapi kondisi dunia saat ini bisa membawa ketenangan batin dan kemantapan sikap dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. ✨🌙
Google Ai (Mode) can make mistakes, so double-check responses.
Related Articles: [Show]
Bagi Sahabat(2x) yang ingin & berbagi
dipersilahkan untuk melangkapi, dengan menuliskan komentar di bawah :)
Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron
Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron
Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
Comments
Post a Comment
Please Notices! Write NAME (nick name) to make it easier to respond to comments that you write. Comments are rude, racist, and humiliation may not be passed and it will be deleted without warning ...